Wednesday, September 23, 2015

TERAPI BEKAS GIGITAN BINATANG BUAS DENGAN AL-FATIHAH



Dikeluarkan dalam shaih Al- Bukhori dan Muslim dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ia menceritakan ada beberapa orang sahabat Nabi yang berada dalam suatu perjalanan. Mereka singgah di salah satu dusun di Arab dan bertemu kepada penduduknya. Namun para penduduk itu menolak menerima mereka sebagai tamu. Tiba-tiba pemimpin penduduk tersebut tergigit binatang berbisa. Mereka mengupayakan segala sesuatu, namun tidak juga menghasilkan apa-apa. Sebagian berkata, “Coba kalian temui berapa laki-laki tadi. Kemungkinan mereka ada yang memiliki keahlian mengobati.” Para penduduk itu mendatangi mereka dan berkata “Pemimpin kami tersengat binatang berbisa dan kami sudah mengupayakan segala sesuatu, tapi gagal semuanya. Apakah ada salah seorang diantara kalian yang memiliki keahlian mengobati?” salah seorang diantara mereka menjawab, “Ya saya bisa meruqyah. Akan tetapi tadi kami meminta bertamu dan kalian menolaknya. Aku tidak akan mengobatinya kecuali biala kalian memberikan kompensasi.  
Akhirnya mereka berdamai dengan janji memberikan kepadanya sebagian kambing-kambing mereka. Ia datang, meludahi pemimpin kampung itu sambil membaca Al-Fatihah. Tiba-tiba orang yang sudah digigit tersebut berdiri seolah-olah baru lepas dari ikatan. Ia bangkit dan berjalan seolah-olah tidak pernah sakit. Akhirnya mereka memenuhi janji dengan memberikan separuh kambing para penduduk. Sebagian diantara mereka berkata kepa yang lain, “Ayok kita bagi rata.” Orang yang melakukan ruqiyah menanggapi. Jangan lakukan sesuatu sebelum menjumpai Rasulullah. Biar kita beritahukan kepada Rasulullah. Singkat cerita sekelompok orang tersebut menceritakan bagaimana peristiwa yang mereka hadapi, dan rasulullah memuji orang yang meruqyah tadi dengan mengatakan, “Kalian sudah bertindak benar” akhirnya Rasulullah memerintahkan untuk membagi kambing tersebut secara merata.
Apa lagi surat Al Fatihah yang Allah tidak pernah menurunkan surat dalam Al-Qur’an, Taurat atau Zabur maupun Injil yang setara dengan surat ini. Surat yang mengandung berbagi makna yang tercakup dalam kitab-kitab Allah, meliputi berbagai dasar dari Asma Rabb dan kunci-kunci pokoknya.
Kesimpulannya, Al-Fatihah itu mengandung keikhlasan beribadah, pujian kepada Allah, penyandaran urusan hanya kepada-Nya, bertawakkal kepadaNya serta meminta dengan sepenuh hati untuk mendapatkan segala kenikanatan, hidayah yang diciptakan segala kenikmatan dan menolak segala marabahaya. Al-fatihah adalah obat yang paling sempurna dan terbaik.
Khasiat Ruqyah dengan Surat Al-Fatihah dan yang lainnya dalam mengobati berbagai binatang beracun merupakan hal yang ajaib sekali. Karena berbagai binatang berbisa memberikan pengaruh melalui proses busuk dari jiwa mereka yang sudah jahat seperti dijelaskan sebelumnya. Senjatanya adalah penyengat berbisa yang diggunakan untuk menyengat mangsanya. Biasanya menyengat kalau ia sedang marah. Kalau sudah marah racun dalam tubuhnya akan bergejolak, sehingga terpancar keluar.
Allah menciptakan obat bagi setiap penyakit dan lawan atau anti dari segal sesuatu. Jiwa atau ruh dari orang yang meruqyah akan berpengaruh pada orang yang diruqyah, sehingga menimbulkan aktivitas dan reaksi sebagaimana yang terjadi anatara obat dan penyakit. Jiwa orang yang diruqyah tersebut untuk menghadapi penyakitnya, sehingga penyakit itu terenyahkan dengan izin Allah.
Sumber: Buku Mukhtashar Ath-T

Sunday, September 20, 2015

PENYIMPANGAN TEORI BROWN DAN LEVINSON DALAM TINDAK TUTUR PESERTA TALK SHOW INDONESIA LAWYERS CLUB (ILC) DI TV ONE DAN RELEVANSINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penyimpangan teori kesantunan Brown dan Levinson dalam tindak tutur peserta Indonesia Lawyers Club di TV One dan relevansinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. Teori yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam penelitian ini adalah teori pragmatik. Sedangkan pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif deskriptif dengan tekhnik pengumpulan data yaitu teknik dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk pelanggaran teori kesantunan Brown dan Levinson yang terjadi dalam tindak tutur peserta Indonesia Lawyers Club edisi 27 Mei 2014 dan 7 April 2015 terdiri atas pengancaman muka positif dan pengancaman muka negatif. Tuturan  peserta yang mengancam muka positif meliputi ungkapan keluhan, dakwaan, ketidaksetujuan, kritikan, ungkapan yang tidak kooperatif, mempermalukan lawan tutur, dan kata-kata tabu. Sedangkan ungkapan yang diggunakan di dalam pengancaman muka negatif yakni ungkapan penolakan, saran, nasihat, permintaan, larangan, janji dan pujian. Jenis tindak tutur yang diggunakan yakni tindak tutur direktif, deklaratif, ekspresif, dan representatif. Sementara itu, pelanggaran teori kesantunan Brown dan Levinson dalam tindak tutur peserta ILC lebih didasari pada suatu kesadaran untuk memperoleh keadilan, pembelaan diri sendiri, solidaritas kelompok, kekuasaan, pengakuan diri dan kelompok, penegakan hukum, perjuangan melawan korupsi dan pembelaan atas nama rakyat. Relevansi hasil penelitian dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA kelas XI  semester dua,  KD 9. 2 dengan materi pokok cara memberikan komentar pada acara diskusi atau seminar.

Kata Kunci: Pragmatik, Kesantunan, Pengancaman Muka Positif,  Pengancaman Muka Negatif, Tindak Tutur, pembelajaran, ILC, dan Ideologi.

PENGHARGAAN ALLAH KEPADA MANUSIA



S
ahabat-sahabat Cendekia yang berbudiman, kita menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dengan memberikan penghargaan yang paling  tinggi daripada makhluk-makhluk yang lain. Hal ini diabdikan oleh Allah dalam kitab-Nya (Al-Qur’an) bahwa ketika proses pencipataan Adam AS sebagai manusia pertama penghuni syurga.  Allah  yang maha mengetahui dan maha penyayang memerintahkan seluruh makhluk-Nya seperti: malaekat, Jin, Saitan dan makhluk-makhluk  yang lain untuk bersujud kepada Adam AS. Peristiwa itu merupakan gambaran yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk saling menghargai antar sesama manusia. Akan tetapi, diantara makhluk yang tidak mau menghargai manusia adalah Saitan, dia enggan bersujud karena menganggap dirinya diciptakan dari benda yang jauh lebih baik daripada manusia. Oleh sebab itu, sejak peristiwa itulah setan bersumpah untuk selalu menggoda manusia hingga akhir zaman.
L
alu diantara kita, pernahkah kita belajar menghargai kawan, bawahan kita dan sahabat kita yang mungkin memiliki kompetensi atau skill yang lebih dari apa yang kita miliki? Atau justru sebaliknya kita selalu menanmkan kebencian kepada siapa yang merasa menyaingi kita? Pertanyaan ini, tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Namun, hal tersebut dapat dideskripsikan melalui pengalaman dan pengamatan penulis yang ins’allah jauh dari subjektifitas dan embel-embel propaganda atau bentuk deskriminasi setiap individu yang mungkin merasa tersinggung ketika membaca artikel ini. Harus diakui bahwa di sekeliling kehidupan kita, entah di kampung halaman, di tempat kerja, di tempat rekreasi tidak semua orang akan menghargai hasil jerih payah dan kerja keras yang kita lakukan. Tidak jarang justru cemoohan yang kita dapatkan, hinaan yang bertubi-tubi  mungkin akan terus terlontarkan dari mulut manis mereka yang merasa tidak senang terhadap kebaikan yang kita dapatkan. Lalu apa yang kita harus perbuat? Apakah kita akan membalsanya atau menyimpan dendam? Tentu orang normal akan menjawab “Tidak” So must be go on. Sebenci apapun orang terhadap kita maka jangan pernah terlintas di benak kita untuk membalas kebencian mereka.  
S
ahabat, ada cerita dari salah satu sahabat saya yang enggan saya sebut namanya. Dia bekerja di salah satu instansi yang lumayan cukup terkenal di kota X. Sahabat saya itu memiliki skill yang cukup bagus, hampir merupakan kaki tangan atasannya, dia memiliki ide yang cemerlang, visioner dan berpikir maju. Dia tidak jarang mengorbankan waktunya yang seharusnya diperuntukkan untuk keluaraga dan anak-anaknya, dia habiskan untuk kemajuan instansi tempat dia bekerja. Dia sangat tulus ingin memajukan instanisnya hal itu terlihat dari kerja keras dan pola pikir yang ia miliki. Singkat cerita berbagai prestasi ia raih untuk mengharumkan nama instansi tersebut. Namun yang menjadi aneh adalah teman-teman mereka sekan tidak mau peduli terhadap keberhasilannya justru banyak dari teman-temannya tidak menghargai atas apa yang dikerjakan untuk instansinya dan menaruh perasaan tidak senang kepadanya. Sama sekali tidak ada penghargaan yang tulus ia dapatkan. Tapi syukurlah dia orang yang sabar dan berjiwa besar. Penulis ikut salut.
C
ontoh di atas, merupakan sebagaian kecil dari ratusan kasus sosial yang merayap di batin tengah-tengah masyarakat kita. Budaya menghargai seakan menjadi tabu untuk dijalankan, padahal Allah sudah memberikan pelajaran di dalam sejarah-sejarah nabi yang termaktub dalam kita SuciNya. Tidak bisa dipungkiri bahwa penyebab manusia tidak mau menghargai antar sesamanya adalah pengaruh merasa disaingi, takut kehilangan jabatan, popularitas, dan kekuasaan. Jika begitu sifat yang kita miliki,  maka apa bedanya kita dengan kisah makhluk yang diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam  AS. Ya, penulis mengerti bahwa tidak ada manusia manapun, sejahat apapun mau disamakan dengan namanya saitan.
L
alu bagaimana memulai untuk belajar menghargai? Tentu belajarlah dari hal yang paling kecil. Hargailah setiap usaha dan kerja keras orang lain dengan hal sederhana, tetapi tidak setiap orang mampu menjalankkanya yakni sering-sering ucapkan terima kasih kepada orang yang menolong atau memberikan nasihat. Ucapan terima kasih yang tulus adalah penghargaan yang tertinggi nilainya mengalahkan materi. Allah juga menyeru kepada manusia, bahwa barang siapa yang bersyukur “Berterima Kasih” atas nikmat yang diberikan maka akan ditambahkan nikmatnya.Sekedar kita mengucapkan Allahamdulillah saja Allah sudah berjanji akan menambahkan nikmat hambanya. Begitulah arti penting sebuah penghargaan yang tulus.
S
elanjutnya, jika sudah mulai terbiasa mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang senantiasa membantu dan meringankan beban kita, maka cara menghargai yang kedua yakni dengan cara memberikan pujian yang tulus terhadap usaha dan kerja keras yang diraih oleh sahabat kita. Cukup dengan ucapan selamat atas prestasi atau usahanya. Ucapan selamat kepada teman-teman kita memiliki efek psikologis yang sangat luar biasa di dalam membangun persaudaraan dan kesatuan. Hal yang perlu digaris bawahi bahwa mengucapkan selamat jangan dibaringi dengan perasaan yang tidak ikhlas, karena ketidak ikhlasan itu tidak memberikan efek bagi yang menerima penghargaan.
J
ika seorang Bos atau atasan ingin melihat anak buahnya bekerja dengan loyalitas yang tinggi maka jangan lupa untuk menghargainya hanya sekedar dengan ucapan terima kasih atau ucapan selamat atas prestasi yang diraih. Jika hal ini tidak dilakukan maka janganlah terlalu berharap bahwa orang-orang yang kita pimpin memiliki loyalitas yang tinggi. Karena secara psikologis manusia membutuhkan dorongan, penghargaan, dan pengakuan.
Jadi kesimpulan dari tulisan singkat ini adalah jika kita tidak menghargai teman dan sahabat kita maka sama artinya kita menanamkan kebencian kepada mereka. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh setan kepada manusia yang selalu menanamkan kebencina kepada mansia hingga akhir zaman. Jika ingin melihat orang yang kita pimpin memiliki loyalitas dan kerja keras yang tinggi maka sering-seringlah memberikan penghargaan yang tulus.

KESUSAHAN DAN KEBAHAGIAN BUAH CINTA DARI TUHAN



J
anji suci yang kita ikrarkan kepada Allah sebelum kita lahir ke muka bumi ini sudah menjadi tanda bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang siap menerima apapun yang terjadi di muka bumi ini, baik yang berupa kesulitan maupun kesenangan. Sesungguhnya kesusaahan dan kesenangan selalu bergandengan. Tidak ada manusia yang selama-lamanya akan bahagia, begitu juga sebaliknya bahwa tidak ada manusia yang akan selama-lamanya dilanda kesusahan. Allah maha adil dalam mengatur setiap kadar kesusahan dan kebahagian yang diberikan kepada manusia. Dua istilah yang selalu hadir di setiap sendi-sendi kehidupan manusia adalah “Susah dan Senang,”  kedua kata itu adalah bentuk ujian yang diberikan oleh Tuhan pada setiap waktu yang tepat sesuai dengan yang dijadwalkan oleh Allah.
Sahabat pembaca, ketahuilah bahwa kesulitan yang kita dapatkan hari ini adalah bentuk ujian Allah yang diberikan kepada kita agar menjadi orang yang kuat untuk meraih hal yang lebih besar. Namun, tidak jarang diantara kita jatuh terjerembab dalam kesedihan yang mendalam ketika menerima kesulitan hidup. Coba tengongok kembali apa yang difirmankan oleh Tuhan, “Sesungguhnya Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya.” Sahabat, percayalah bahwa apa yang difirmankan oleh Allah tersebut merupakan kebenaran yang tidak bisa terbantahkan oleh  oleh logika sekelas ilmuan manapun. Sesungguhnya yang terpenting adalah sejauh mana hati ini meyakini bukan sejauh mana kepala kita melogikannya. Sesungguhnya kebenaran firman Allah adalah melebihi dari segala logika sehingga tidak bisa dilogikakan.
Lalu apa yang kita harus perbuat jika menerima suatu kesulitan dalam hidup? Bagi manusia yang beriman maka hal pertama yang ia lakukan adalah mengembalikan segala urusannya kepada Allah SWT. Karena jika kesulitan dan cobaan itu kita kembalikkan kepada Allah dengan penuh rasa sabar dan tawakkal maka gerbang solusi agan segera dibukakan oleh Allah SWT. Allah sebagai zat yang tidak ada duanya di jagat raya ini, tentu tidak sama dengan makhluk apapun ketika memberi bantuan, bantuan yang diberikan oleh Allah bersifat tanpa batas, akan tetapi bantuan yang diberikan manusia bersifat terbatas. Maka segala bentuh curahan hati yang kita utarakan kepada Allah akan membuat-Nya semakin suka. Oleh karena itu, sesungguhnya jika dihadapkan dengan berbagai kesusahan maka hal yang pertama kali dilakukan yakni penyerahan diri kepada yang maha kuat, maha pembuat kedamian.  Hal ini juga senada dengan apa yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad SAW “Barang siapa yang ingin menjadi manusia yang paling kuat maka bertakwalah”1.
Kesulitan atau cobaan, seiring dengan waktu dan jadwal yang sudah ditentukan oleh Tuhan maka pasti akan datang menghampiri kita. Maka di saat itulah kita tidak bisa menghelak atau bersembunyi dari cobaan itu. Maka sebelum kesulitan atau cobaan itu datang yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapinya baik yang berupa pesiapan mental ataupun fisik. Selain itu, cara menghadapi kesusahan dan kesedihan itu adalah dengan jalan bersabar dan bersyukur. Jika menerima musibah atau kesulitan maka jalani dengan rasa sabar, karena sabar akan membuat hati kita akan tenang dan kuat dalam menerima segala cobaan yang diberikan oleh Allah. Sedangkan rasa syukur diucapkan tatakala kita mendapatkan kebahagiaan. Semakin kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya untuk diri kita. Jadi apapun yang kita hadapi di dunia ini kembalikanlah kepada Allah dengan penuh rasa sabar dan syukur.
Berbicara sabar dan syukur maka kedua istilah tersebut tidak memiliki batasan sampai sejauh mana kita harus boleh bersabar dan sampai sejauh mana kita bersyukur. Sabar tidak memiliki batasan karena sabar itu bukanlah angka atau timbangan yang bisa diukur takarannya dan batasannya. Tapi sabar itu adalah sifat yang diberikan oleh Allah kepada munsia agar manusia itu bisa selamat dari segala bentuk cobaan. Semakin kita bersabar maka semkin kita merasa bahagia dalam menjalani hidup ini. Allah juga berpesan kepada kita dalam firmannya “Jadikanlah shalat dan sabar itu sebagai penolongmu.” Merenungi makna ayat tersebut sungguh betapa kuatnya pengaruh kesabaran di dalam menentukan kesalamatan manusia di muka bumi ini. Kuatnya kesabaran yang dimiliki oleh manusia tergantung dari besarnya keimanan yang dimiliki.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa segala bentuk kesulitan dan kebahagiaan semuanya datang dari Allah sebagai bahan ujian kepada kita agar menjadi pribadi yang kuat dalam keadaan apapun. Ujian adalah buah cinta dan kasih sayang Allah kepada hambaNya.

Total Pageviews