|
S
|
ahabat-sahabat
Cendekia yang berbudiman, kita menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dengan
memberikan penghargaan yang paling
tinggi daripada makhluk-makhluk yang lain. Hal ini diabdikan oleh Allah
dalam kitab-Nya (Al-Qur’an) bahwa ketika proses pencipataan Adam AS sebagai
manusia pertama penghuni syurga.
Allah yang maha mengetahui dan
maha penyayang memerintahkan seluruh makhluk-Nya seperti: malaekat, Jin, Saitan
dan makhluk-makhluk yang lain untuk
bersujud kepada Adam AS. Peristiwa itu merupakan gambaran yang diberikan oleh
Allah kepada kita untuk saling menghargai antar sesama manusia. Akan tetapi, diantara
makhluk yang tidak mau menghargai manusia adalah Saitan, dia enggan bersujud
karena menganggap dirinya diciptakan dari benda yang jauh lebih baik daripada
manusia. Oleh sebab itu, sejak peristiwa itulah setan bersumpah untuk selalu
menggoda manusia hingga akhir zaman.
|
L
|
alu diantara kita,
pernahkah kita belajar menghargai kawan, bawahan kita dan sahabat kita yang
mungkin memiliki kompetensi atau skill yang lebih dari apa yang kita miliki? Atau
justru sebaliknya kita selalu menanmkan kebencian kepada siapa yang merasa
menyaingi kita? Pertanyaan ini, tentu jawabannya ada pada diri kita
masing-masing. Namun, hal tersebut dapat dideskripsikan melalui pengalaman dan
pengamatan penulis yang ins’allah jauh dari subjektifitas dan embel-embel propaganda
atau bentuk deskriminasi setiap individu yang mungkin merasa tersinggung ketika
membaca artikel ini. Harus diakui bahwa di sekeliling kehidupan kita, entah di
kampung halaman, di tempat kerja, di tempat rekreasi tidak semua orang akan
menghargai hasil jerih payah dan kerja keras yang kita lakukan. Tidak jarang
justru cemoohan yang kita dapatkan, hinaan yang bertubi-tubi mungkin akan terus terlontarkan dari mulut
manis mereka yang merasa tidak senang terhadap kebaikan yang kita dapatkan.
Lalu apa yang kita harus perbuat? Apakah kita akan membalsanya atau menyimpan
dendam? Tentu orang normal akan menjawab “Tidak” So must be go on. Sebenci apapun orang terhadap kita maka jangan
pernah terlintas di benak kita untuk membalas kebencian mereka.
|
S
|
ahabat, ada cerita
dari salah satu sahabat saya yang enggan saya sebut namanya. Dia bekerja di
salah satu instansi yang lumayan cukup terkenal di kota X. Sahabat saya itu
memiliki skill yang cukup bagus, hampir merupakan kaki tangan atasannya, dia
memiliki ide yang cemerlang, visioner dan berpikir maju. Dia tidak jarang
mengorbankan waktunya yang seharusnya diperuntukkan untuk keluaraga dan
anak-anaknya, dia habiskan untuk kemajuan instansi tempat dia bekerja. Dia
sangat tulus ingin memajukan instanisnya hal itu terlihat dari kerja keras dan
pola pikir yang ia miliki. Singkat cerita berbagai prestasi ia raih untuk
mengharumkan nama instansi tersebut. Namun yang menjadi aneh adalah teman-teman
mereka sekan tidak mau peduli terhadap keberhasilannya justru banyak dari
teman-temannya tidak menghargai atas apa yang dikerjakan untuk instansinya dan
menaruh perasaan tidak senang kepadanya. Sama sekali tidak ada penghargaan yang
tulus ia dapatkan. Tapi syukurlah dia orang yang sabar dan berjiwa besar.
Penulis ikut salut.
|
C
|
ontoh di atas,
merupakan sebagaian kecil dari ratusan kasus sosial yang merayap di batin tengah-tengah
masyarakat kita. Budaya menghargai seakan menjadi tabu untuk dijalankan,
padahal Allah sudah memberikan pelajaran di dalam sejarah-sejarah nabi yang termaktub
dalam kita SuciNya. Tidak bisa dipungkiri bahwa penyebab manusia tidak mau
menghargai antar sesamanya adalah pengaruh merasa disaingi, takut kehilangan
jabatan, popularitas, dan kekuasaan. Jika begitu sifat yang kita miliki, maka apa bedanya kita dengan kisah makhluk
yang diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Ya, penulis mengerti bahwa tidak ada
manusia manapun, sejahat apapun mau disamakan dengan namanya saitan.
|
L
|
alu bagaimana memulai untuk
belajar menghargai? Tentu belajarlah dari hal yang paling kecil. Hargailah
setiap usaha dan kerja keras orang lain dengan hal sederhana, tetapi tidak
setiap orang mampu menjalankkanya yakni sering-sering ucapkan terima kasih
kepada orang yang menolong atau memberikan nasihat. Ucapan terima kasih yang
tulus adalah penghargaan yang tertinggi nilainya mengalahkan materi. Allah juga
menyeru kepada manusia, bahwa barang siapa yang bersyukur “Berterima Kasih”
atas nikmat yang diberikan maka akan ditambahkan nikmatnya.Sekedar kita
mengucapkan Allahamdulillah saja
Allah sudah berjanji akan menambahkan nikmat hambanya. Begitulah arti penting
sebuah penghargaan yang tulus.
|
S
|
elanjutnya, jika
sudah mulai terbiasa mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang
senantiasa membantu dan meringankan beban kita, maka cara menghargai yang kedua
yakni dengan cara memberikan pujian yang tulus terhadap usaha dan kerja keras
yang diraih oleh sahabat kita. Cukup dengan ucapan selamat atas prestasi atau
usahanya. Ucapan selamat kepada teman-teman kita memiliki efek psikologis yang
sangat luar biasa di dalam membangun persaudaraan dan kesatuan. Hal yang perlu
digaris bawahi bahwa mengucapkan selamat jangan dibaringi dengan perasaan yang
tidak ikhlas, karena ketidak ikhlasan itu tidak memberikan efek bagi yang
menerima penghargaan.
|
J
|
ika seorang Bos atau
atasan ingin melihat anak buahnya bekerja dengan loyalitas yang tinggi maka
jangan lupa untuk menghargainya hanya sekedar dengan ucapan terima kasih atau
ucapan selamat atas prestasi yang diraih. Jika hal ini tidak dilakukan maka
janganlah terlalu berharap bahwa orang-orang yang kita pimpin memiliki
loyalitas yang tinggi. Karena secara psikologis manusia membutuhkan dorongan,
penghargaan, dan pengakuan.
Jadi kesimpulan dari
tulisan singkat ini adalah jika kita tidak menghargai teman dan sahabat kita
maka sama artinya kita menanamkan kebencian kepada mereka. Hal ini sama dengan
apa yang dilakukan oleh setan kepada manusia yang selalu menanamkan kebencina
kepada mansia hingga akhir zaman. Jika ingin melihat orang yang kita pimpin
memiliki loyalitas dan kerja keras yang tinggi maka sering-seringlah memberikan
penghargaan yang tulus.
No comments:
Post a Comment