Sunday, September 20, 2015

PENGHARGAAN ALLAH KEPADA MANUSIA



S
ahabat-sahabat Cendekia yang berbudiman, kita menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dengan memberikan penghargaan yang paling  tinggi daripada makhluk-makhluk yang lain. Hal ini diabdikan oleh Allah dalam kitab-Nya (Al-Qur’an) bahwa ketika proses pencipataan Adam AS sebagai manusia pertama penghuni syurga.  Allah  yang maha mengetahui dan maha penyayang memerintahkan seluruh makhluk-Nya seperti: malaekat, Jin, Saitan dan makhluk-makhluk  yang lain untuk bersujud kepada Adam AS. Peristiwa itu merupakan gambaran yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk saling menghargai antar sesama manusia. Akan tetapi, diantara makhluk yang tidak mau menghargai manusia adalah Saitan, dia enggan bersujud karena menganggap dirinya diciptakan dari benda yang jauh lebih baik daripada manusia. Oleh sebab itu, sejak peristiwa itulah setan bersumpah untuk selalu menggoda manusia hingga akhir zaman.
L
alu diantara kita, pernahkah kita belajar menghargai kawan, bawahan kita dan sahabat kita yang mungkin memiliki kompetensi atau skill yang lebih dari apa yang kita miliki? Atau justru sebaliknya kita selalu menanmkan kebencian kepada siapa yang merasa menyaingi kita? Pertanyaan ini, tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Namun, hal tersebut dapat dideskripsikan melalui pengalaman dan pengamatan penulis yang ins’allah jauh dari subjektifitas dan embel-embel propaganda atau bentuk deskriminasi setiap individu yang mungkin merasa tersinggung ketika membaca artikel ini. Harus diakui bahwa di sekeliling kehidupan kita, entah di kampung halaman, di tempat kerja, di tempat rekreasi tidak semua orang akan menghargai hasil jerih payah dan kerja keras yang kita lakukan. Tidak jarang justru cemoohan yang kita dapatkan, hinaan yang bertubi-tubi  mungkin akan terus terlontarkan dari mulut manis mereka yang merasa tidak senang terhadap kebaikan yang kita dapatkan. Lalu apa yang kita harus perbuat? Apakah kita akan membalsanya atau menyimpan dendam? Tentu orang normal akan menjawab “Tidak” So must be go on. Sebenci apapun orang terhadap kita maka jangan pernah terlintas di benak kita untuk membalas kebencian mereka.  
S
ahabat, ada cerita dari salah satu sahabat saya yang enggan saya sebut namanya. Dia bekerja di salah satu instansi yang lumayan cukup terkenal di kota X. Sahabat saya itu memiliki skill yang cukup bagus, hampir merupakan kaki tangan atasannya, dia memiliki ide yang cemerlang, visioner dan berpikir maju. Dia tidak jarang mengorbankan waktunya yang seharusnya diperuntukkan untuk keluaraga dan anak-anaknya, dia habiskan untuk kemajuan instansi tempat dia bekerja. Dia sangat tulus ingin memajukan instanisnya hal itu terlihat dari kerja keras dan pola pikir yang ia miliki. Singkat cerita berbagai prestasi ia raih untuk mengharumkan nama instansi tersebut. Namun yang menjadi aneh adalah teman-teman mereka sekan tidak mau peduli terhadap keberhasilannya justru banyak dari teman-temannya tidak menghargai atas apa yang dikerjakan untuk instansinya dan menaruh perasaan tidak senang kepadanya. Sama sekali tidak ada penghargaan yang tulus ia dapatkan. Tapi syukurlah dia orang yang sabar dan berjiwa besar. Penulis ikut salut.
C
ontoh di atas, merupakan sebagaian kecil dari ratusan kasus sosial yang merayap di batin tengah-tengah masyarakat kita. Budaya menghargai seakan menjadi tabu untuk dijalankan, padahal Allah sudah memberikan pelajaran di dalam sejarah-sejarah nabi yang termaktub dalam kita SuciNya. Tidak bisa dipungkiri bahwa penyebab manusia tidak mau menghargai antar sesamanya adalah pengaruh merasa disaingi, takut kehilangan jabatan, popularitas, dan kekuasaan. Jika begitu sifat yang kita miliki,  maka apa bedanya kita dengan kisah makhluk yang diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam  AS. Ya, penulis mengerti bahwa tidak ada manusia manapun, sejahat apapun mau disamakan dengan namanya saitan.
L
alu bagaimana memulai untuk belajar menghargai? Tentu belajarlah dari hal yang paling kecil. Hargailah setiap usaha dan kerja keras orang lain dengan hal sederhana, tetapi tidak setiap orang mampu menjalankkanya yakni sering-sering ucapkan terima kasih kepada orang yang menolong atau memberikan nasihat. Ucapan terima kasih yang tulus adalah penghargaan yang tertinggi nilainya mengalahkan materi. Allah juga menyeru kepada manusia, bahwa barang siapa yang bersyukur “Berterima Kasih” atas nikmat yang diberikan maka akan ditambahkan nikmatnya.Sekedar kita mengucapkan Allahamdulillah saja Allah sudah berjanji akan menambahkan nikmat hambanya. Begitulah arti penting sebuah penghargaan yang tulus.
S
elanjutnya, jika sudah mulai terbiasa mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang senantiasa membantu dan meringankan beban kita, maka cara menghargai yang kedua yakni dengan cara memberikan pujian yang tulus terhadap usaha dan kerja keras yang diraih oleh sahabat kita. Cukup dengan ucapan selamat atas prestasi atau usahanya. Ucapan selamat kepada teman-teman kita memiliki efek psikologis yang sangat luar biasa di dalam membangun persaudaraan dan kesatuan. Hal yang perlu digaris bawahi bahwa mengucapkan selamat jangan dibaringi dengan perasaan yang tidak ikhlas, karena ketidak ikhlasan itu tidak memberikan efek bagi yang menerima penghargaan.
J
ika seorang Bos atau atasan ingin melihat anak buahnya bekerja dengan loyalitas yang tinggi maka jangan lupa untuk menghargainya hanya sekedar dengan ucapan terima kasih atau ucapan selamat atas prestasi yang diraih. Jika hal ini tidak dilakukan maka janganlah terlalu berharap bahwa orang-orang yang kita pimpin memiliki loyalitas yang tinggi. Karena secara psikologis manusia membutuhkan dorongan, penghargaan, dan pengakuan.
Jadi kesimpulan dari tulisan singkat ini adalah jika kita tidak menghargai teman dan sahabat kita maka sama artinya kita menanamkan kebencian kepada mereka. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh setan kepada manusia yang selalu menanamkan kebencina kepada mansia hingga akhir zaman. Jika ingin melihat orang yang kita pimpin memiliki loyalitas dan kerja keras yang tinggi maka sering-seringlah memberikan penghargaan yang tulus.

No comments:

Post a Comment

Total Pageviews