|
J
|
anji
suci yang kita ikrarkan kepada Allah sebelum kita lahir ke muka bumi ini sudah
menjadi tanda bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang siap menerima apapun yang
terjadi di muka bumi ini, baik yang berupa kesulitan maupun kesenangan.
Sesungguhnya kesusaahan dan kesenangan selalu bergandengan. Tidak ada manusia
yang selama-lamanya akan bahagia, begitu juga sebaliknya bahwa tidak ada
manusia yang akan selama-lamanya dilanda kesusahan. Allah maha adil dalam
mengatur setiap kadar kesusahan dan kebahagian yang diberikan kepada manusia.
Dua istilah yang selalu hadir di setiap sendi-sendi kehidupan manusia adalah
“Susah dan Senang,” kedua kata itu
adalah bentuk ujian yang diberikan oleh Tuhan pada setiap waktu yang tepat
sesuai dengan yang dijadwalkan oleh Allah.
Sahabat
pembaca, ketahuilah bahwa kesulitan yang kita dapatkan hari ini adalah bentuk
ujian Allah yang diberikan kepada kita agar menjadi orang yang kuat untuk
meraih hal yang lebih besar. Namun, tidak jarang diantara kita jatuh
terjerembab dalam kesedihan yang mendalam ketika menerima kesulitan hidup. Coba
tengongok kembali apa yang difirmankan oleh Tuhan, “Sesungguhnya Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya.”
Sahabat, percayalah bahwa apa yang difirmankan oleh Allah tersebut merupakan
kebenaran yang tidak bisa terbantahkan oleh
oleh logika sekelas ilmuan manapun. Sesungguhnya yang terpenting adalah
sejauh mana hati ini meyakini bukan sejauh mana kepala kita melogikannya.
Sesungguhnya kebenaran firman Allah adalah melebihi dari segala logika sehingga
tidak bisa dilogikakan.
Lalu
apa yang kita harus perbuat jika menerima suatu kesulitan dalam hidup? Bagi
manusia yang beriman maka hal pertama yang ia lakukan adalah mengembalikan
segala urusannya kepada Allah SWT. Karena jika kesulitan dan cobaan itu kita
kembalikkan kepada Allah dengan penuh rasa sabar dan tawakkal maka gerbang
solusi agan segera dibukakan oleh Allah SWT. Allah sebagai zat yang tidak ada
duanya di jagat raya ini, tentu tidak sama dengan makhluk apapun ketika memberi
bantuan, bantuan yang diberikan oleh Allah bersifat tanpa batas, akan tetapi
bantuan yang diberikan manusia bersifat terbatas. Maka segala bentuh curahan
hati yang kita utarakan kepada Allah akan membuat-Nya semakin suka. Oleh karena
itu, sesungguhnya jika dihadapkan dengan berbagai kesusahan maka hal yang
pertama kali dilakukan yakni penyerahan diri kepada yang maha kuat, maha
pembuat kedamian. Hal ini juga senada
dengan apa yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad SAW “Barang siapa yang ingin menjadi manusia yang paling kuat maka
bertakwalah”1.
Kesulitan
atau cobaan, seiring dengan waktu dan jadwal yang sudah ditentukan oleh Tuhan
maka pasti akan datang menghampiri kita. Maka di saat itulah kita tidak bisa
menghelak atau bersembunyi dari cobaan itu. Maka sebelum kesulitan atau cobaan
itu datang yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapinya
baik yang berupa pesiapan mental ataupun fisik. Selain itu, cara menghadapi
kesusahan dan kesedihan itu adalah dengan jalan bersabar dan bersyukur. Jika
menerima musibah atau kesulitan maka jalani dengan rasa sabar, karena sabar
akan membuat hati kita akan tenang dan kuat dalam menerima segala cobaan yang
diberikan oleh Allah. Sedangkan rasa syukur diucapkan tatakala kita mendapatkan
kebahagiaan. Semakin kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya untuk
diri kita. Jadi apapun yang kita hadapi di dunia ini kembalikanlah kepada Allah
dengan penuh rasa sabar dan syukur.
Berbicara
sabar dan syukur maka kedua istilah tersebut tidak memiliki batasan sampai sejauh
mana kita harus boleh bersabar dan sampai sejauh mana kita bersyukur. Sabar
tidak memiliki batasan karena sabar itu bukanlah angka atau timbangan yang bisa
diukur takarannya dan batasannya. Tapi sabar itu adalah sifat yang diberikan
oleh Allah kepada munsia agar manusia itu bisa selamat dari segala bentuk
cobaan. Semakin kita bersabar maka semkin kita merasa bahagia dalam menjalani
hidup ini. Allah juga berpesan kepada kita dalam firmannya “Jadikanlah shalat
dan sabar itu sebagai penolongmu.” Merenungi makna ayat tersebut sungguh betapa
kuatnya pengaruh kesabaran di dalam menentukan kesalamatan manusia di muka bumi
ini. Kuatnya kesabaran yang dimiliki oleh manusia tergantung dari besarnya
keimanan yang dimiliki.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa segala bentuk kesulitan dan kebahagiaan semuanya
datang dari Allah sebagai bahan ujian kepada kita agar menjadi pribadi yang
kuat dalam keadaan apapun. Ujian adalah buah cinta dan kasih sayang Allah
kepada hambaNya.
No comments:
Post a Comment